Politik selalu diindentikan dengan pencarian jabatan secara instan. Bukan hanya dalamlingkup yang besar semacam kenegaraan, bahkan lingkup yang relatif kecilpun sudah dapat dipastikan ada permainan secara politik. Politik kenegaraan jika kita melihat dalam lingkup yang lebih sempit, akan terdapat pembedaan dari petak-petak berbeda yang biasa kita sebut partai politik. Partai-partai yang akan menjadi penguasa ketika mayoritas menang telak dalam pemilu. Bisa kita lihat ketika dizaman jokowi saat ini partai merahlah yang banyak berkecimpung dalam dunia politik kenegaraan. Seperti yang saya sebut diawal tadi mereka yang menang mayoritas akan menjadi penguasa.
Namun ini masih belum apa-apa jika kita bandingkan dengan masa kepemimpinan SBY, Soeharto, bahkan Soekarno dimana mereka adalah dari jajaran militer. Bisa kita bayangkan bagaimana kekuatan secara finansial ataupun power of law dalam ketatanegaraan. Gaya kepemimpinan khas militer melekat dalam masa periode mereka. Namun dari sedemikian rupa kejelekan yang kita lihat deri gaya kepemimpinan semacam ini. Banyak hal yang bisa diteladani, bahwa negara kita memang perlu emimpin yang memaksa. Bukan yang mengiyakan semua permintaan dari masyarakat, meski negara kita menganut sistem demokrasi kerakyatan. Namun itu juga bukan jaminan, karna konsistensi kepemimpinan akan kembali lagi ke topik pertama tadi, politik. Seberapa kuatpun penguasa pasti selalu ada celah yang bisa dilihat dari jajaran para partai politik. Entah dengan cara licik yang sangat melanggar hak asasi manusia tentang kebebasan pendapat. Ataupun dengan cara yang lebih rapi ala peperangan masa kerajaan, perang terbuka.
Dalam konteks yang jauh lebih kecil, dalam lingkup perguruan tinggi, sama halnya degan kenegaraan, ada unsur politik didalamnya. Tidak dapat dipungkiri memang jika dalam kampus yang berskala besar ataupun bahkan yang lingkup kecil yang tidak semua orang mengenalnya. Permaina politik kampus tidak sebesar dalam kenegaraan, namun kadang jauh lebih kejam dari itu. Jika dilihat dari tujuannya sendiri, memang tidak terlalu berpengaruh dalam kehidupan kampus yang diinginkan para pelaku politik kampus yang biasanya juga para aktivis disetiap kampus.
Jelas denga cara bermain yang lebih efektif karna selain keterbatasan dana yang dimiliki, keterbatasan waktu luang yang dimiliki mereka juga berbeda. Memang status mahasiswa mwnjadi kendala dalam permainan politikyang dilakukan dalam lingkup kampus. Namun dalam hal ini, ini adalah salah satu pembelajaran paling efektif dilapangan bagi para mahasiswa yang memang ingin menekuni bidang ini, menjadi politisi. Jelas banyak hal positifnya,katakanlah tentang keterbukaan pemikiran, bukan menjadi pemikir yang instan namun juga butuh proses panjang untuk mematangkan. Banyak mahasiswa yang berpikir pendek, katakanlah merkeka kupu-kupu. Sebutan yang biasa disematan pada mahasiswa yang hanya berangkat kuliah lalu pulang dan tak mengetahui seperti apa situasi terkini dikampusnya. Selain tiu, zona politikkampus banyak mengajarkan tentang keorganisasian yang lebih mendalam daripada partai politik besar yang hanya berorientasi pada materi. Apalagi unutk mahasiswa jurusan sosial politik, aupun hukum. Sangat rekomendasi sebagai sarana pemetaan teori yang didapat diperkuliahan yang kemudian diakumulasikan kedalam realita.
Meskipun demikian, sebagai mahasiswa, yang esensinya menjadi agen of cange, selayaknya kita juga menjaga prinsip itu. Bukan palah dari masuk ke ranah politik kampus lalu tak mengingat kembali esensinya sebagai mahasiswa. Itu sama saja dengan mahasiswa upu-kupu yang hanya memikirkan keperluan pribadinya. Sama bukan dengan aktivis tapi hanya memikirkan kepentingan pribadinya sendiri tanpa memiirkan pihak lain?
Jelas satu prinsip yang harus kita jaga, ada sebuah keharusan untuk ikut serta dalam politik kampus, atau keorganisasian yang juga satu genre dengannya. Namun disisi lain kita tetap harus menjaga apa yang menjadi identitas kita, agen of change, agen perubahan. Entah perubahan yang lrbih baik dalam lingkup perguruan tinggi sendiri bahkan dalam lingkup yang lebih besar semacam kenegaraan.
Tinggalkan komentar