Sudah tau kah cerita tokoh sejarah yang bernama Suwardi Suryaningrat?, akan ku ceritakan sedikit tentang Suwardi yang peduli dengan lingkungan sekitarnya.Setelah dipulangkan ke indonesia suwardi masih tetap memiliki keinginan untuk memajukan bangsanya. Hingga pada tahun 1922, Suwardi ingin memperbaiki sistem pendidikan secara kultural yang dapat diselenggarakan dengan baik bermodal niat itu ia mendirikan perguruan Taman Siswa. Suwardi melahirkan organisasi Taman Siswa yang pelaksanaannya ialah kepemimpinan dalam organisasi yang demokratis, dan mengutamakan kepentingan rakyat.
Organisasi Taman Siswa yang menjadi tonggak untuk pendidikan nasional. Pedoman yang terkenal dari Taman Siswa sebagai berikut “Ing ngarso sing tulodo, madya mangun karso, tut wuri handayani” atau bisa diartikan sebagai prinsip seorang pemimpin. Jika di depan harus teladan, jika di tengah harus mampu membangun dan di belakang harus mampu memberi dukungan yang baik. Dengan ada nya Taman Siswa menjadi ancaman untuk pihak Belanda, karena kolonial Belanda beranggapan bahwa Taman Siswa ini akan menghancurkan pemerintahanya. Sehingga Suwardi atau yang biasa di sapa dengan sebutan Ki Hajar Dewantara tersebut menjadi bapak pendidikan nasional dalam bangsa kita. namun perjuangan bapak pendidikan kita belum berakhir, harus di teruskan oleh generasi muda.
Dari sejarah gerakkan Budi Utomo dan Taman Siswa, banyak keresaan-keresaan yang timbul di benakku, tanggal 2 mei yang di tetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS), namun hadir dengan kisah yang ironi di generasi saat ini. Masih banyak anak muda di negara ini terhenti di bangku pendidikan, jangankan untuk mencapai Sekolah Menengah Atas (SMA) pada saat Sekolah Dasar (SD) pun mereka terhenti hanya kerena persoalan biaya. Meskipun pendidikan di negeri ini terfokus di kota-kota besar, tidak dapat dipungkiri masih saja ada yang terlewatkan. Fasilitas pendidikan hingga hari ini belum layak untuk sekolah-sekolah di kota besar apalagi di pelosok sana. Apakah ini Kekurangan negeri kita tentang pendidikan yang tak merata?, untuk menjadi bangsa yang hebat kita harus belajar, tapi nyatanya bangsa kita di nomer urut paling buncit soal pendidikan maupun minat bacanya.
Kita di hadirkan perubahan kurikulum yang begitu sering, sepertinya pendidikan indonesia belum menemukan jiwa yang tepat. Belajar seharian di sekolahpun seperti tidak cukup hingga perlu les. Orang tua kami seperti tidak percaya dengan pendidikan di sekolah, bagaimana tidak anak-anak engan berangkat sekolah, tertawa bahagia pada bel istirahat dan pulang sekolah. Kita lihat saja 2 mei banyak instansi, sekumpulan kelompok, yayasan, dan masih banyak lagi yang tak mau ketinggalan untuk memperingati HARDIKNAS, mereka melakukan upacara sebagai rasa hormat mereka terhadap bapak pendidikan di negeri ini yaitu Ki Hajar Dewantara. Tapi sayangnya HARDIKNAS selalu di warnai dengan upacara sebagai formalitas saja, tidak ada follow up atau tindak lanjutnya untuk pendidikan nasional kedepan. Ki Hajar Dewantara pernah berkata “Mangapa kita perlu belajar?, karena semua pencapaian awalnya dimulai dari proses pembelajaran” Taman Siswa memang gerakkan yang berada di sejarah bangsa ini, tidak ada salahnya untuk generasi muda lanjutkan. Kita tidak perlu untuk membiayain mereka untuk sekolah jika kita tak mampu melakukan itu, namun Ilmu yang kita dapatkan di sekolah tentu akan bermanfaat jika kita salurkan ke orang orang yang terhenti di bangku pendidikan. Kita terdidik bukan untuk menjadi penonton bangsa ini, melainkan memberi perubahan untuk bangsa kita. hanya menjadi penonton, tidak dapat merasakan kedukaan, kegembiraan, dan emosional. Seorang pemipin yang perlu di lindungi di negeri ini bukanlah seorang presiden namun generasi muda negeri ini.
Tinggalkan komentar