Universitas Muhammadiyah Magelang

Lemahnya Gerakan Intra-kampus dan Ekstra-kampus Mahasiswa Magelang.

CategorIes:

,

By

·

5–7 menit

Oleh: Krisnaldo Triguswinri/ Inisiator Perpustakaan Jalanan Magelang

 

Seorang terpelajar harus bersikap adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan –Pramudya Ananta Toer

Fenomena lemahnya aktivisme organisasi mahasiswa di Magelang:

Merefleksi peran mahasiswa sebagai agent of change dan social control yang pada masanya pernah di daulat sebagai garda terdepan penyebab terjadinya perubahan-perubahan sosial-politik: mulai dari 0rde Lama dan 0rde Baru hingga Reformasi. Di mana mahasiswa acap kali berkontribusi sebagai pelopor yang membawa aspirasi masyarakat ke jalanan dan dengan beragam upaya memperjuangkanya. Terlebih untuk mengawasi dan memperbaiki beberapa kepincangan yang terjadi pada sistem, menjadi penyambung lidah masyarakat terhadap dekadensi moral para penguasa, serta menjaga irasionalitas yang terjadi pada lingkungan.

Namun, saya melihat kondisi yang terbalik di Magelang dua tahun belakangan. Artinya, peran mahasiswa sebagai entitas yang seharusnya hadir kembali dalam setiap persoalan kemasyarakatan, dan dengan konsekuensi-logis dapat pula turut aktif menyelesaikan permasalahan yang terjadi, peran mahasiswa yang ’katanya’ agen perubahan, peran mahasiswa yang seharusnya dapat merealisasikan amanat Tridarma perguruan tinggi: pengabdian masyarakat, adalah kenihilan belaka, kelompok Intlektual ini justru jarang sekali muncul. Melihat Magelang memiliki beberapa kampus, harusnya eksistensi mereka terlihat dan menjadi kelompok-kelompok yang berperan penting dalam penyelesaian persoalan kemasyarakatan, daerah dan Negara.

Berbicara tentang gerakan mahasiswa Magelang, ada dua hal yang perlu diklasifikasikan:

Pertama, mahasiswa intra-kampus, dalam hal ini adalah BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). BEM adalah lembaga kemahasiswaan tertinggi yang menjadi wadah aktualisasi diri para mahasiswa untuk mempertarungkan kemampuan manajemen organisasi mereka. Di mana BEM menjadi lembaga yang merepresentasikan ribuan mahasiswa dalam sebuah kampus.

BEM di pimpin oleh seorang Presiden Mahasiswa yang dengan otoritas dan hirarkinya mempunyai kekuasaan mutlak untuk membuat sebuah keputusan-keputusan terkait arah gerak organisasi. Dan secara strukturan-fungsional di isi oleh para profesional militan yang telah terbentuk kemampuan kognitif, intuitif dan ideologisnya. Sebab tidak mudah masuk ke dalam organisasi tertinggi tersebut. Ada beberapa mekanisme prosedural yang super rumit dalam pola penerimaan anggota. Jadi kalau seperti itu, bukankah kualitas mereka sebenarnya harus di uji dengan seberapa jauh kemampuan pengorganisiran yang mereka lakukan untuk senantiasa berpihak kepada rakyat, bukan hanya dominan dalam pembuatan kegiatan saja, namun, sekali lagi, terlibat dalam persoalan kerakyatan.

Lembaga kemahasiswaan di atas terkadang justru bersikap sangat ekslusif dan elitis dalam keterlibatanya terhadap persoalan kerakyatan dewasa ini. seolah-olah mereka sebagai aktivis mahasiswa bangga bahwa fungsi mereka hanya sekadar menjadi event organizer saja, tidak lebih dari itu: takut panas dan kotor. Lantas, hanya mengadakan rapat-rapat dan melakukan perencanaan dan perumusan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang sangat privat. Privat dalam hal ini saya artikulasi sebagai kegiatan yang hanya diperuntukan kepada mahasiswa-mahasiswa kampus itu sendiri. Tidak diperuntukan secara general. Bahkan, Tidak berimplikasi pada masyarakat.

Tidak ingat mereka, bahwa anggaran yang digunakan untuk membuat kegiatan tersebut adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bagaimana buruh-petani-nelayan dan masyarakat, misalnya. membayarkan uang pajak mereka untuk membiayai aktifitas organisasi mahasiswa. Harusnya mereka (mahasiswa) sadar dan kemudian membangun gerakan sosial yang langsung bersentuhan dengan rakyat. nyatanya, ketika terjadi penindasan dan ketidakadilan yang mendera masyarakat, mahasiswa tidak hadir. Apakah mereka hanya berada dalam ruang-ruang sekretariatan sembari berfilsafat tentang pembebasan, apakah kerja mereka hanya duduk manis dan makan snack pada Auditorium dan dengan bersamaan mendengarkan ceramah seminar lalu pulang membawa sertifikat? Saya pikir, fungsi mahasiswa, terkhusus BEM harus di revitalisasi. Sehingga arus balik mereka sebagai mahasiswa militan yang berada dalam wilayah sosial yang berstatus terpelajar sadar, tugas dan fungsi mereka adalah menjadi Intlektual yang harus turut hadir dalam persoalan-persoalan yang terjdi di luar kampus mereka.

Kedua, mahasiswa ekstra-kampus atau sering disebut sebagai gerakan ekstra-parlementer. pun ada pula mahasiswa-mahasiswa yang turut bergabung dalam organisasi-organisasi yang mengusung varian ideologi yang berbeda, dimana mereka menggunakan latar belakang ideologisnya sebagai instrument perjuangan. organisasi ekstra ini adalah organisasi yang sentralistik karena memiliki struktur pusat dan daerah, berpola vertikal dan memiliki ketua umum (pusat) yang bertugas dan memiliki wewenang untuk mengorientasikan organ-organ daerah dalam menjalankan tujuan atau pun rencana strategis organisasi. Kemudian, organ-ekstra ini memiliki komisariat dalam sebuah kampus yang dikelola oleh mahasiswa-mahasiwa itu sendiri. Yang jelas, untuk kepentingan kader dan perjuangan.

saya tidak akan membicarakan skala gerakan organ-ekstra ini secara makro, walaupun secara historis peranya memang sangat besar dalam perjalanan panjangan terjadinya transformasi politik di Indonesia. Yang perlu dicermati adalah, saya belum melihat keterlibatan intensif dan progresifitas organ-ekstra Magelang dalam keterlibatanya terhadap pengorganisiran massa untuk membela kepentingan masyarakat. Misalnya, GMNI (gerakan mahasiswa nasional Indonesia), PMII (pergerakan mahasiswa islam Indonsia), KAMMI (kesatuan aksi mahasiswa muslim Indonesia), yang dalam sebuah kampus Negri di Magelang cukup memiliki basis massa yang besar. Lantas, dimana posisi mereka, apakah justru menjadi organ-intra yang berada dalam kontradiksi ruang diskusi? Atau malah, menjadi event organizer?

alih-alih mereka sebagai organisasi luar kampus yang harusnya berfungsi sebagai pengawas jalannya sebuah pemerintahan justru belakangan ini hanya disibukan dengan upaya kaderisasi untuk memperbanyak kuantitas kader sehingga dapat berkompetisi dalam mencapai kedudukan pada kursi-kursi kekuasaan melalui organisasi-organisasi intra-kampus. Saya pikir organ-ekstra Magelang harus di revitalisasi. artinya, mengembalikan serta memposisikan ruh-ruh perjuangan sebagaimana mestinya, sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai stabilitator dan kelompok penekan yang berjuang diluar parlemen demi kepentingan masyarakat yang lebih baik lagi.

Indikator terjadinya bentuk-bentuk Apatisme dalam Organisasi Intra dan Ekstra:

Bahwa, ternyata hari ini mahasiswa Magelang sedang asik berada dalam ruang-ruang diskusi kampus dan dengan ilmiahnya membicarakan kondisi ekonomi-politik Indonesia yang semakin kapitalistik karena digerogoti pemodal. Wacana demi wacana muncul tanpa diakomodir oleh implementasi, terminologi-kritis kelompok Intlektual yang bernama mahasiswa ini acap kali seperti para cendikiawan saat membicarakan konsepsi atau gagasan kenegaraan ala Marx atau Adam Smith, tapi sekali lagi. Itu hanya berakhir pada wacana yang saya pikir terlalu naïf untuk diperdebatkan. Melihat bahwa kondisi lingkungan di Indonesia sedang tidak baik-baik saja, harusnya mahasiswa sadar dan bergerak keluar dari ruang diskusi dan ruang-ruang belajar, kemudian merespon persoalan-persoalan yang terjadi; mulai dari maraknya eksploitasi alam dari Kalimantan, Papua, Sumatra hingga Bali, dan yang terdekat, kendeng hingga Kulon Progo.

Saya melihat ada beberapa pola yang membelenggu wilayah kemahasiswaan di Magelang, yang jelas mahasiswa telah teralienasi (terasingkan) oleh sejumlah bentuk hedonistis dan individualis, yang kemudian menciptakan sikap apatasi dan skeptis dalam kalangan mahasiswa itu sendiri. menyebabkan itu semua tidak berhubungan dengan aktivitas produktif mahasiswa, adalah sifat alamiah manusia yang sebenarnya dapat aktif dan intraktif dalam  melihat persoalan-persoalan kemanusian dan keadilan serta mampu berproses menjadi pelopor perubahan. Ketika hubungan aktif dan intraktif  sebagai mahasiswa mengalami distorsi (pengurangan/dihilangkan) oleh kepentingan atau aturan penguasa: rektor dan pejabat daerah, dalam hal ini juga aktifitas sosial mereka yang terbatas. maka sebuah kesadaran bersama tentang identitas, potensi serta tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa akan hilang, hegemoni semacam ini yang merupakan cara kelas berkuasa untuk mengontrol dan mematikan kelas penekan (mahasiswa) dalam menjadi motor-motor gerakan sosial untuk senantiasa melindungi kepentingan-kepentingan masyarakat atas dasar kesadaran dan nurani bersama. maka kelompok-kelompok penekan (intra-kampus dan ekstra-kampus) yang harusnya dapat pula menjadi kelompok yang mengontrol kebijakan-kebijakan akan mati.

 

 

 

 

 

 

 

Satu tanggapan untuk “Lemahnya Gerakan Intra-kampus dan Ekstra-kampus Mahasiswa Magelang.”

  1. Terimakasih. Avatar
    Terimakasih.

    Memang betul bahwasanya mahasiswa yang tergabung dalam sebuah wadah organisasi intra_ekstra kampus dimagelang belum progresif secara masif. Namun setiap generasi mempunyai tantangan (challange) dan jawaban atau (response) yang berbeda-beda. Setiap generasipun mempunyai dialektika organisasi yang terus akan berubah ubah.
    Menanggapi apa yg telah disampaikan. Kita pun perlu memahami bahwasanya dengan umur yang masih muda untuk Universitas Tid*r, maka perlu banyak hal yg harus dievalusai. Sistem pengajaran, pembangunan, recruitment pegawai, dan organisasi kemahasiswaan. Selain itu untuk mampu menjadi Organisasi yg militan yang dalam hal ini mampu bergerak didalam setiap persoalan masyarakat yang ada. Membutuhkan proses yang panjang. Dan faktor pendukung lainnya harus diperhatikan.
    Pengetahuan bagaimana cara mengorganisir massa, pennyadaran individu-individu dan yang lain perlu adanya waktu.
    Kita tidak boleh melupakan hasil dari proses yg terus berjalan. Kesadaran mahasiswa dan kualitas organisasi intra_ekstra semakin hari terus msngalami peningkatan dari pada sebelumnya.

    Menanggapi mengenai posisi organisasi ekstra. Memang mereka kurang masif dalam mengimplementasikan ideologinya kepada masyarakat. Namun setiap gerakan tidak harus dengan pengorganisiran massa. Dari hal kecil mereka harus belajar dan terus belajar untuk menjadi organisasi yang mampu menyelesaikan segala permasalahan masyarakat.
    Pada kenyataannya memang benar. Namun saya yakin mereka tidak benar- benar meninggalkan tugasnya sebagai agent of change. Namun semua mempunyai porsi yg berbeda beda dalam bergerak yg tak mampu disama ratakan.

    Mengenai terpusatnya gerakan ekstra kampus dari pusat sampai ke komisariat. Saya pikir itu tidak sepenuhnya benar. Setiap daerah otonom masing masing mempunyai hak dalam menentukan arah geraknya yg sesuai prinsip Ideologinya. Bukan prinsip daripada komando pusatnya. Hanya dalam hal tertentu saja kita harus seragam. Sebagai bentuk kekompakan dan militansi kita.

    Suka

Tinggalkan komentar