
Terik matahari begitu tajam hingga menusuk kalbu di siang itu menyambut kami di tanah kelahiran yang berjarak 5 km dari lokasi berdirinya salah satu keajaiban dunia, Desa Sambeng Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Setiap langkah kaki kami terdapat cerita budaya lokal yang menarik untuk di kulik.
Perjalanan dipandu oleh Siti Nur Hidayah yang dikenal dengan Dayah si pengelola wisata Getek Balong yang lahir dan besar ditanah tersebut. Jadi seperti apa cerita dibalik Getek Balong yang sesungguhnya? Dayah mengantar kami untuk mendapatkan jawaban itu. Kami disuguhi sebuah sungai luas dengan arus air tenang diantara pepohonan menjadi tempat penjelajahan kami.
Salah satu anugerah dari Tuhan telah menghadirkan sungai progo yang menjadi sumber kehidupan masyarakatnya. Konon, dahulu masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan tanpa perahu.
“Disebut nelayan tanpa perahu karena dahulu masyarakat disini mengunakan alat transportasi tradisonal bernama getek yang terbuat dari bambu untuk mencari ikan, “ ucap Dayah.
Proses pembuatan getek ini dengan menata rapi bambu utuh kemudian dijejerkan dengan tali dan dikuatkan dengan bahan lain seperti kayu atau pun hasil irisan bambu.
“Bambu dipilih yang sudah berumur tua dan pemotongan bambu sebaiknya dilakukan saat kadar air sudah berkurang agar kuat dan tidak mudah terserang hama,“ tutur Dayah.
Tak jauh dengan Candi Borobudur, getek tersebut terdapat cerita-cerita tentang kaitannya dengan relief candi. Terbukti keberadaan ukiran candi terdapat relief yang mengambarkan getek.
“Kami mencetuskan wisata Getek Balong dengan tujuan melestarikan alam yang ada, memberdayakan masyarakat sekitar dan mengangkat budaya serta mengedukasi bagi orang lain,“ ucap Dayah.
Jadi, kami disana bermain sekaligus belajar dimana pengunjung dapat menaiki getek sekaligus belajar menangkap ikan menggunakan ragam alat tangkap ikan berupa jala, jaring, telik, teplak, ayap, kepis dan sindit yang dibuat oleh masyarakat disana sembari menikmati sunset atau pun sunrise.
“Bagi pengunjung yang menaiki getek akan di fasilitasi pelampung dan caping demi keselamatan mereka, “ ucap Dayah.
Selain getek, pengunjung juga disuguhi aneka pilihan seperti trip kayaking, ciblon, river camp, kuliner tradisional dan paket edukasi. Wisata Getek Balong tersebut tidak dipatok biaya masuk, kecuali pengunjung ingin menjajal paket yang telah disediakan.
Di tengah perjalanan kami melihat perabotan yang digunakan masih tradisional seperti piring dari kayu, tempat cuci tangan dari gerabah dan masih banyak lagi.
“Kami sedang mengusahakan agar tidak menggunakan bahan yang berdasar plastik agar mengurangi limbah, untuk itu sebagai gantinya kami menggunakan barang-barang dari hasil karya ramah lingkungan yang dibuat masyarakat sekitar menggunakan hasil alam yang ada seperti gerabah dari tanah liat, bambu dan kayu,“ ucap Dayah.
Wisata budaya dan edukasi Getek Balong yang menjadi sasaran perjalanan kami ini dicetuskan sejak tahun 2019 hingga sekarang, dimana kami belajar dan bermain tentang bagaimana cerita mereka hidup berdampingan dan berkelanjutan dengan sungai progo dari generasi ke generasi. Inilah Getek Balong sesungguhnya.
Penulis : Fanny Rahma Fitria
Fotografi : Siti Nur Hidayah
Editor : Azza Nur Layla
Tinggalkan komentar