
LPM Tidar 21 – Penggunaan produk kecerdasan buatan atau Artificial Intellegience ChatGPT memberikan banyak kemudahan di kalangan akademik dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan belajar. Bak koin yang mempunyai dua sisi, ChatGPT juga memberikan tantangan baru bagi mahasiswa dalam kemampuan berpikir kritis dan beretika.
Potensi ChatGPT dalam memberikan umpan balik kepada mahasiswa untuk meningkatkan kualitas belajar ataupun pekerjaan.
Survei secara kuantitatif didapatkan hampir 100 % responden yang terdiri dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) mengetahui adanya produk kecerdasan buatan ChatGPT, dan 50% responden menggunakan teknologi ini dalam menyelesaikan tugas perkuliahan. Rata-rata responden menggunakan ChatGPT untuk mencari referensi informasi baru terkait tugas perkuliahan dan sebagai search engine selain google.
Kepala Senat Akademik UNIMMA, Muji Setiyo mengatakan “ChatGPT hanya alat, maka alat itu yang paling penting adalah yang menggunakan, apakah dia bisa memberikan dampak positif atau negatif tergantung dari orang yang menggunakannya”.
ChatGPT adalah alat bantu untuk mendapatkan informasi baru dan membantu mengatasi kesenjangan pendidikan yang lebih luas karena ChatGPT menggunakan big data dalam memproses informasi.
Resiko dan tantangan dalam penggunaan ChatGPT di kalangan akademik
Salah satu tujuan manusia mengeyam pendidikan adalah menambah kapasitas berpikir. Gagasan pemikiran seharusnya murni keluar dari dalam diri sesorang. ChatGPT hanyalah alat buatan manusia yang membantu dalam mengembangkan gagasan tersebut, seharusnya kita gunakan sebagai penunjuk atau mapping, bukan meminta kepada kecerdasan buatan untuk membuat karya.
”Filosofi adab sebelum ilmu itu mnjadi sangat penting, karena pada akhirnya kecerdasan buatan sebagai sarana atau alat mempermudah kita melakukan sesuatu, akan tetapi kunci utama ada pada orang yang menggunakannya,” ungkap Pristi, Dosen Teknik Informatika UNIMMA.

Menggunkan Teknologi ChatGPT atau kecerdasan buatan lainnya dengan bijak
Menggunakan teknologi kecerdasan (AI) dalam pendidikan dapat membantu meningkatkan efisiensi pembelajaran dan pengalaman kalangan akademika. Namun, penggunaaan teknologi AI dalam konteks pendidikan juga memerlukan pertimbangan etika dan kebijakan yang baik. Penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam pendidikan dapat memberikan manfaat besar juga apabila diimplementasikan dengan bijak.
“Kemudian dari sisi fleksibilitas dan adaptibilitas teman-teman juga bisa lebih touch up nih hal-hal yang baru terjadi, boleh mengikuti trend tapi teman-teman harus tahu mana yang memang harus kalian pilih atau tidak karena itu salah satu juga adaptif, biasanya manusia jauh lebih adaptif ketimbang teknologi AI tersebut,” imbuh Pristi.
Dengan pengaruh yang semakin besar di berbagai sektor, chatbot seperti ChatGPT terus mengubah cara masyarakat berinteraksi dan berpartisipasi dalam dunia digital. Penting bagi kita untuk terus mengeksplorasi dan memahami potensi teknologi ini serta mengelola dampaknya secara bijak demi kebaikan masyarakat secara keseluruhan.
Penulis : Ari Waryono, Dina Nugraheni, Nasywa Riyana, Wahyu Rifqiansyah
Editor : Aulia Nuraini
Tinggalkan komentar