
Jika sebagian besar dari kita memaknai Candi Borobudur sebagai tempat wisata atau warisan sejarah. Kini dapat dimaknai sebagai pekerja keras dan pantang menyerah. Dibalik ragam relief Candi Borobudur ada kisah menarik dan menginspirasi. Kisah ini dari seorang pria yang lahir dan besar di wilayah bangunan yang sudah ada dari abad ke-8 Masehi. Pria yang merintis karir dari tukang sapu di Candi Borobudur, kini menjadi tour guide tamu penting negara di bangunan peninggalan Dinasti Syalendra.
Mura Aristina, pria kelahiran Magelang, 20 Juli tahun 1982. Pria yang akrab di sapa Mura memulai karirnya pada tahun 1999. Selepas lulus sekolah ia memutuskan bekerja menjadi tukang sapu di Candi Borobudur. Dibalik himpitan perekonomian yang serba sulit, ia hanya bisa menguatkan hati dan menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Di tahun itu tidak ada yang bisa diandalkan selain berserah diri kepada Sang Kuasa.
“Saya mensyukuri semuanya, selembar daun jatuh pun di Al-qur’an sudah menjadi ketetapan Allah, jadi saya bersyukur, ” ucap Mura.
Meskipun profesinya menjadi tukang sapu, tapi lokasi kerja yang ia tempati adalah salah satu peninggalan dunia. Tak heran jika banyak turis mancanegara yang berkunjung dan membuat pria tersebut terdorong untuk belajar Bahasa Inggris.
“Bahasa inggris saya terasah karena ketemu bule tiap hari jadi lama-lama berani, kalau lancar sih belum,” ucap Mura.
Menurutnya kebiasaan akan membentuk karakter dan menentukan hasil, jadi usahakan apa yang ada dan jangan lupa bersyukur.
Tahun 2004 tempat ia bekerja membuka lowongan pekerjaan dibagian Satpam. Informasi yang ia dengar tidak dilewatkan begitu saja. Walaupun syarat untuk mendaftar menggunakan ijazah jurusan IPA untuk lulusan SMA, hal itu tidak mengurungkan niat Mura untuk mendaftarkan diri dengan ijazah yang ia miliki yaitu jurusan IPS. Dari total seratus tujuh puluh tujuh pendaftar, hanya dua kandidat yang akan diterima. Ternyata ia ikut tercantum dalam daftar nama pendaftar yang diterima. Mura tak pernah lepas melakukan pendekatan diri kepada Tuhan. Ia rutin menjalankan puasa. Sifat pasrah dan tawakal itulah yang selalu menjadi bekal ia dalam melakukan sesuatu.
“Diterima pekerjaan saya nangis waktu itu ya pada tahun 2004, ya lagi-lagi karena Kuasa Allah,”ucapnya.
Di usia Mura yang saat itu masih muda, gaji pertama yang di dapatkan menjadi satpam tidak ia gunakan untuk membeli barang guna memenuhi gaya hidupnya tetapi ia memilih untuk membeli kamus.
“Gaji pertama saya saat itu saya belikan untuk beli kamus, kamus bahasa inggris sekitar 12 ribu. Itu gaji saya selama 3 hari.”
Sedari menjadi tukang sapu Mura juga kerap ditanya letak-letak relief yang terpahat di Candi Borobudur oleh pengunjung. Itu menjadikan pemacu bagi dirinya sehingga mau tidak mau harus menjelaskan sesuai dengan apa yang ia pahami. Dari situlah dia mulai belajar mengenai sejarah dan geologi terkait candi Borobudur.
“Tapi disini saya bukan kayak ayam mati di lumbung padi. Sebenarnya itu cuma kiasan, saya di sini sejarah saja gak tahu, geologi juga gak tahu, itu gimana ya? Makanya saya di sini kenyang ilmu,” tutur Mura.
Hingga pada akhirnya hal itu memunculkan ketertarikannya pada dunia tour guide.
Tahun 2008 Mura memulai karirnya menjadi tour guide. Berkat kerja keras dan sifat pantang menyerahnya, karir yang ia geluti di bidang tour guide terlihat hasilnya. Tahun 2017 banyak media yang menyoroti foto dirinya dengan Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama yang ia dampingi saat berkunjung ke Candi Borobudur. Menurutnya itu salah satu momen yang berharga karena dalam pengambilan gambar hanya dia yang diperbolehkan untuk foto bareng secara langsung. Lebih uniknya ia dirangkul oleh Barack Obama ketika foto bersama.
“Ya gimana waktu itu semua gak bisa nyentuh Pak Obama, Paspampres saja gak bisa. Tapi di situ saya diperbolehkan untuk foto bersama beliau,” ungkapnya.
Ia juga pernah sempat mendampingi Putri Thailand ketika berkunjung ke Candi Borobudur. Tokoh yang ia dampingi adalah Guru Besar Agama Budha serta Sejarawan Arkeologi Thailand.
“Sebenarnya lumayan nervous, karena saya harus bercerita di depan seorang ahli Buddhis sedangkan saya orang Islam yang secara otomatis secara pengetahuan tentang Buddhisme tidak terlalu banyak.”
Dengan bermodalkan pengetahuan mengenai sejarah candi, Mura tetap profesional melakoni profesi yang ia geluti sejak lama. Tak hanya itu, tokoh-tokoh lain yang pernah ia dampingi yaitu Kaisar Jepang, Pangeran Charles, Raja Swedia, Presiden Norwegia, Presiden Singapura, dan banyak lagi.
Mura juga mendirikan kelas tour guide. Sudah sekitar empat sampai lima tahun ia aktif mengajar di kelas tersebut.Kelas ini sifatnya suka rela, dengan mengajak siapa saja yang tertarik dengan profesi pemandu wisata.
“Ya itu sudah sekitar 4-5 tahunan, sudah lama sih.”
Lebih menariknya lagi di usianya yang sudah tak muda, ia masih semangat mencari ilmu. Saat ini ia menjadi mahasiswa semester akhir di Universitas Muhammadiyah Magelang dengan jurusan S1 Ilmu Hukum. Mura menceritakan saat ini dirinya sedang fokus mengerjakan skripsi. Bahkan ada momen dimana dalam pengajuan judul skripsi ditolak sebanyak 12 kali, sampai akhirnya dosennya sendiri yang memilihkan judul.
“Coba kalau saya gak pasrah sama Sang Kuasa ya saya sudah stress, bayangkan saya suruh mempelajari 12 judul yang saya ajukan dan gak ada yang disetujui sama sekali.”
Mura memutuskan untuk kuliah karena tuntutan pekerjaan. Namun lagi-lagi mengalir dan pasrah menjadi jalan yang ia ambil.
“Jadi memang hukum itu bukan salah satu pilihan, saya tekankan jalan hidup saya itu adanya cuma pasrah,” ungkapnya.
Terkadang menjadikan manusia sebagai acuan adalah tindakan yang salah, karena itu akan mengubah jati diri dan menjauhkan dari kodrat manusia yang merdeka. Namun dalam hal ini, menginspirasi atau memotivasi untuk suatu perubahan yang lebih baik dan berguna bagi banyak pihak adalah kewajiban kita semua, meski kita sadar atau tidaknya. Seperti perjalanan hidup Mura Aristina, ia mengajarkan kita mengenai berpasrah dan pantang menyerah dalam menjalani kehidupan.
Penulis : Baruna Bima Faturakhman
Fotografi : Yudha Miftakhudin
Editor : Azza Nur Layla
Tinggalkan komentar