
Overthinking is my hobby, and I hate it merupakan buku self improvement keempat yang ditulis oleh Alvi Syahrin. Buku ini mengunggah pemikiran tentang masalah yang sering kali dihadapi oleh banyak orang dan dari semua kalangan usia.
Siapa sih yang gak pernah overthinking? Semua orang punya overthinking-nya masing-masing dan tak sedikit orang yang merasa terbebani dan tak sanggup menghadapi pikirannya sendiri. Entah tentang masa depan, kegagalan, tentang teman, sahabat, cinta, kebahagiaan, bahkan tujuan hidup.
Buku ini menjawab pertanyaan-pertanyaan umum yang sudah menjadi permasalahan banyak orang. Seperti, bagaimana jika aku gagal lagi? Gimana kalau aku nggak bisa memenuhi ekspektasi keluarga? Cara bisa tidur dengan kepala yang berisik. Gimana kalau dia ninggalin aku dan aku nggak pernah bisa ngelupain dia? Gimana kalau overthinking-ku benar? Gimana kalau nggak ada kebahagiaan yang tersisa lagi untukku? Apakah Allah masih mau mengampuniku?
Melalui karyanya Alvi Syahrin mengajak kita untuk menyelami ke dalam kompleksitas pikiran manusia. Dalam perjalanan yang introspektif dan reflektif tentang fenomena overthinking. Sambil membagi pengalaman pribadinya yang diungkap secara intim, ia membongkar akar penyebab dan konsekuensi dari kebiasaan merenungkan segala hal berlebihan ini, mengungkap bagaimana overthinking dapat menghambat kebahagiaan dan produktivitas seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan mengawali bacaan dengan banyak kata ‘gimana?’ Alvi Syahrin mengajak pembaca terbawa oleh suasana hangat dalam buku yang disajikan dengan bahasa yang ringan. Siapapun yang membaca akan merasa seperti sedang berbincang dengan seorang teman.
Alvi syahrin akan menjadi teman seperjuangan pembaca, sebagai seseorang yang juga sering overthinking mengajak berjuangan bersama-sama membunuh monster bernama ‘overthinking’.
Tak lupa disajikan dengan strategi strategi versinya yang mudah dipahami.
Strategi no. 1, “Putar balikkan apa yang overthinking katakan”
Karena jelas overthinking nggak akan langsung menyerah, maka ada stategi ke-2, “Tilik motif busuk Overthinking” Dengan masih mengingatkan kembali stategi pertama, sebagai patokan.
Strategi no.3, “kamu harus memanipulasi Overthinking yang manipulatif itu” Disini, ia mengatakan overthinking nggak akan pernah mau menyerah. Kali ini ia akan memantik lukamu yang belum kering. itu sebabnya perlu dilanjutkan ke strategi berikutnya, strategi no.4, “Hentikan afirmasi positif sejenak, wawancara dirimu, kenali traumamu.” Pada halaman ini ia mengajukan beberapa pertanyaan dan ingin kita sebagai pembaca benar-benar memikirkan jawabannya. Meminta kita menyuarakan seolah-olah ia sedang duduk mendengarkan. Dengan pertanyaan terakhir, ‘apakah kamu merasa butuh pencapaian sesuatu untuk bisa diterima/disayangi?’
No.5 “Tentang overthinking, bungkam dia, buat dia merasa bersalah dan nggak penting, lalu beri ketegasan untuk dirimu.”
No.6 “Berprasangka baik sama Allah, yakin sama Allah, bukan malah lebih yakin sama overthinking.”
No.7 “Jangan pernah mau kalah sama overthinking.” Dibumbui dengan pertanyaan-pertanyaan tentang orang tua.
Seperti yang disebutkan oleh Alvi, Penyebab lain overthinking hadir: kita membiarkan pikiran kita lengang.
Lanjut ke strategi no. 8 “Lepaskan harapan yang membelenggu hatimu.” Dengan diimbuhi perihal mindset ‘Mindset itu seperti mesin dalam mobil, action, proses menyetirnya, waiting, proses untuk sampai ke tujuan, karena memang nggak bisa langsung sampai begitu aja. Praying, bensinnya, biar bisa terus lanjut dalam perjalanan.
Dilanjut dengan cara tidur dengan kepala berbisik versi Alvi. Ia berkata telah mengumpulkan cara-cara itu dari tahun ke tahun. Mempraktekkannya bertahun-tahun dan diakui nggak selalu berhasil tapi sering berhasilnya, ia menambahkan, tentu masih banyak cara lain di luar sana dan boleh dicoba juga.
Namun, jika dalam penerapannya, dengan berbagai cara tetap nggak bisa tidur bahkan nggak tidur sama sekali, ia menyarankan untuk berkonsultasi dengan professional.
Dilanjutkan ke strategi no.9 “Kamu harus lebih kejam dari overthinking.”
Strategi no.10 “kali ini nggak usah tentang overthinking. Hadapi dengan lembut. Jujur sama diri sendiri.”
Strategi no.11 “Akui saja kekalahanmu, biarkan overthinking merasa menang sejenak, ikuti alurnya. In amanipulative way.” Dengan pembahasan terkait cinta pada manusia dan Pencipta.
Strategi no.12 “Ingatlah kisah-kisah orang yang pernah melalui kesedihan yang begitu pelik dan panjang, lalu ingat bagaimana kisah itu berakhir.” Dilengkapi dengan spoiler kisah Nabi Yusuf, bagaimana survive-nya hidupnya.
Dipertanyaan berikutnya. ‘gimana kalau aku sedih lagi? Sama aja dong?’ Alvi mengingatkan strategi no. 3 dan no. 6, dan meminta untuk kita menggabungkan keduanya.
Strategi no.13 “lakukan hal-hal yang menurut overthinking itu berbahaya, padahal normalnya nggak berbahaya.”
Strategi terakhir, “Jangan pernah, like, ever, ever, ever, menyisipkan sedikit rasa bangga atas apa yang pikiranmu telah skenariokan sebelumnya.” Perlu digaris bawahi, setoxic-toxic-nya overthinking kadang ia punya opini yang butuh kamu beri perhatian.
Ada overthinking yang memang butuh dilawan dan ada yang butuh diberi perhatian lebih. Maka pastikan hal-hal yang bisa kamu control dan tidak. Pikirkan pro dan kontranya. Diakhiri dengan bab, sedikit cuitan pesan dari overthinking yang meminta maaf.
Overthinking is my hobby but I hate it menjadi bacaan berharga bagi siapapun yang ingin memahami dan mengatasi kecenderungan overthinking dalam hidup mereka. Semua kegelisahan akan mereda setelah menyelesaikan buku ini sampai habis.
Penulis : Muna Khuril’ain Muttaqin
Tinggalkan komentar