Universitas Muhammadiyah Magelang

KONDISI INTERNAL BEM UNIVERITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG, KINERJA PRESMA TUAI KRITIKAN

By

·

3–5 menit
Source : Freepik

LPM TIDAR 21-Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Magelang (BEM U) Kabinet Lentera Penata tengah menghadapi masalah internal yang signifikan. Dari 64 anggota BEM U yang dilantik, sekitar 60% anggota BEM U telah mengundurkan diri, sementara 10% lainnya merasa tidak pasti dengan posisi mereka. Salah satu mantan anggota BEM U, W.A., mengungkapkan bahwa sekitar 60% anggota telah keluar dan 10% lainnya merasa terombang-ambing di dalamnya.

“Mungkin kalau buat sekarang sekitar 60% anggota yang keluar dan 10% anggota terombang-ambing,” ujarnya (2/9).

Febrian Arief P., selaku Presiden Mahasiswa (Presma) BEM U, mengakui bahwa ia tidak memiliki data pasti mengenai anggota yang keluar atau masih bertahan. Menurutnya, kurang dari 10 orang yang secara resmi menyerahkan surat pengunduran diri.

”Saya gak begitu ngitung dari kemarin jumlahnya, yang nyerahin surat pengunduran diri gak ada 10 orang dan jujur saya gak bisa mendata ini termasuk keluar, ini belum keluar, ini terombang-ambing dan sebagainya,” jelas Arief (28/9).

Alasan pengunduran diri dari sebagian anggota adalah karenamereka merasa bekerja dibawah tekanan yang sangat besar. Mereka menyebut sikap Presma yang sering memberi tugas mendadak dari deadline dan memiliki sifat yang keras kepala, anti kritik, dan tidak peduli dengan anggotanya.

“Banyak sekali faktor yang menyebabkan mereka pada keluar. Anti kritik, bodo amat, gak peduli sama anggotanya. Ya memang kalau di organisasi pasti ada tekanan, tapi kalau di BEM U kerjanya sangat-sangat dibawah tekanan. Misalkan ada beberapa tugas dari presma yang diberikannya sangat dadakan seperti baru dikasih siang tapi sore hari itu juga harus jadi. Rasa pengertian terhadap anggotanya masih sangat kurang,” jelas salah satu anggota lainnya yang telah mengundurkan diri juga (16/9).

Menanggapi hal ini, Presma menjelaskan bahwa informasi yang diterima dari luar harus secepatnya direspon karena tugas yang diberikan dari pimpinan pun juga bersifat mendadak. Contohnya seperti pimpinan yang mengubah konsep acara PKKMB yang telah dibuat oleh BEM U dan pemberitahuan seruan AKSI yang diadakan secara mendadak. Presma juga menambahkan hal ini yang tidak dapat dipahami oleh anggota BEM U dan apabila tidak siap terhadap resiko tersebut artinya tidak siap untuk menjadi bagian dari BEM U.

“Informasi dari luar harus secepatnya direspon, misal pemberitahuan aksi konsolnya sekarang, besoknya aksi mau gakmau pagi atau malamnya kita harus share dan itu mendadak. Seperti PKKMB kemarin, kita sudah banyak mengonsep ternyata dari pimpinan berubah. Bahkan rundown yang kita mahasiswa buat dengan rundown yang disebar ke dosen itu beda. Nah klarifikasinya kan perlu secepat-cepatnya, dan saya perlu publikasi secepat-cepatnya. Nah mungkin itu yang teman-teman BEM U sekarang gak paham, jadi kalau gak siap capek, gak siap repot, dan gak siap diribetin gak usah jadi BEM U” ujar Arief (28/9).

Selain itu, sebagian besar anggota BEM U merasa bahwa Presmatidak bisa mengayomi layaknya seorang ketua. Alasannya karenaPresma sudah menyerahkan tanggung jawab permasalahan internal kepada Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma). Dengan kondisi yang seperti ini, banyak anggota BEM U yang lebih dekat dan lebih memilih berkomunikasi dengan Wapresma. 

“Makanya aku lebih suka curhat atau cerita ke Mas Nafis (wapresma), karna dia lebih bisa mengayomi yang beda banget sama Mas Arif (Presma) sebagai ketua,” tutur salah satu anggota BEM U yang sudah keluar (16/9). 

Pernyataan ini juga dipertegas oleh salah satu anggota BEM U yang masih bertahan. 

“Kalo soal permasalahan di internal itu memang tugasnya Wapres, mungkin karena Presmanya terlalu ngurus eksternal. Jadi mungkin udah cape kan yang keluar-keluar pasti Presmanya tapi kurang tau juga soalnya jarang ngobrol sama Presmanya, aku lebih dekat samaWapresnya,” jelasnya (23/9).

Menanggapi hal tersebut, Presma menyebutkan bahwa ia dengan Wapresnya memiliki pembagian tugas yang berbeda. Walaupun lingkup kerja Presma di eksternal, bukan berarti dirinya tutup mata pada permasalahan internal dan begitu pun sebaliknya. 

“Memang benar kalau saya fokusnya ke eksternal, dan Mas Nafis fokusnya ke internal. Dalam arti saya gak mungkin gak ngurusin internal, dan gak mungkin juga Mas Nafis gak ngurusin eksternal. Jadi konsepnya saling back up juga,” ujar Arief (28/9). 

Hingga kini, Presma sedang berusaha memperbaiki kondisi internal BEM U dengan mengubah metode kepemimpinannya yang baru dan menyesuaikan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada. Hal ini merupakan cara untuk Presma mempertahankan anggotanya sampaiakhir periode kepengurusan. 

“Saya juga mau ganti metodenya. Yang tadinya saya setiap hari ke sekre, kalau saya gak ke sekre kira-kira temen-temen nyaman gakkalau ke sekre. Saya mau coba itu, tapi nyatanya dari kemarin sekre BEM sepi-sepi aja. Oke-lah kalau emang temen-temen tidak bisa di preassure, gak bisa diajak lari, harus selow-selow dulu aja, sayajuga selow. Lebih memfillter lagi mana yang perlu saya tuntun, bisa diajak lari. Kalau yang selow, ya saya ajarin dengan cara lain,” tutur Arief (28/9).

Presma berharap bahwa kepengurusan BEM U periode tahun ini para anggota dapat belajar dari pengalaman. Baik buruk kepemimpinannya juga dapat dijadikan sebagai evaluasi dan pembelajaran untuk kedepannya, serta lebih siap dalam menghadapi tekanan yang lebih besar di masa mendatang.

“Harapan saya buat teman-teman yang masih bertahan maupun sudah keluar, bisa belajar baik buruknya saya dan Mas Nafis, baik buruk kepemimpinan kami bisa dijadikan bahan evaluasi dandijadikan pelajaran untuk temen-temen kedepannya untuk tahu realita lapangan seperti apa. Dan semoga teman-teman bisa mendapat preassure yang lebih besar daripada ini,” tutur Arief (28/9).

Reporter : Sophia Ikhsanti, Kayla Rizkiyya
Penulis : Kayla Rizkiyya
Editor : Maura Amelia

Tinggalkan komentar