Penulis : Betrand (Ruang Juang)

Melihat mama dan papa, cahyanya redup redam kian menghilang
Mendengar suara Tuhan, tergagap-gagap mulai tak terdengar
Kini kita datang disini
Merumuskan keadaan
Maka Kunyatakan padamu
Langgamku langgam Jawa
Darahku darah kesatria
Tapi aku Indonesia
Kita Indonesia
Putra sang mama dan papa
Peranakan angkatan gagap
Dari Kumpulan berbahaya
Namun masih bermimpi tuk jadi manusia
Untuk itu,
izinkanlah aku bertanya
Untuk apa Buat rumah kalau kita malah merasa asing didalamnya
Buat apa untuk serumah kalau rasa dan kata masih jauh dari kata ramah
Maka sepantasnyalah kita bertanya-tanya
Kemana!!!!
Kemana perginya anak -anak itu
Anak-anak yang bernama demokrasi
Anak- anak yang bernama kaum intelektuil
Kemana mereka pergi
Kulihat mereka asik bermain di bilik-bilik rumah
Mereka tentram Dalam kamar- kamar idealis dan ekspektasi
Bersemayam megah
Jauh dari persoalan hidup dan kenyataan
Kini zaman peralihan telah tiba
Kursi berganti pantat
Pantat pun berganti kursi
Dan anak-anak itu keluar, seolah-olah baru kemarin ia merdeka
Mereka berkata
Pilihlah saya, saudara-saudara. Saya demokratis, intelektuil pula.
Sedang kita masih bertanya-tanya
Saudara ini siapa?
Sungguh memalukan
Kata agung hanya jadi bualan
Pergerakan hanya jadi sarana percuanan
Hanya tuk dapatkan kursi bekas pantat orang
Dan Kita yang hadir disini
Menjadi saksi atas keadaan
Keadaan adalah kenyataan
Kenyataan adalah pelajaran
Cukuplah aku berkata
Kita masih berjuang
Maka cukuplah pula aku bertanya
Kita berjuang untuk siapa?
Tinggalkan komentar