Universitas Muhammadiyah Magelang

KEBIJAKAN WISUDA UNIMMA JADI SOROTAN, PANITIA AMBIL LANGKAH SOLUTIF

By

·

2–3 menit
Sumber foto : Live stream Unimma

LPM TIDAR 21 – Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menyelenggarakan Wisuda Periode II Tahun Akademik 2024/2025 pada Rabu, 23 April 2025. Acara berlangsung di Auditorium Kampus 1 UNIMMA dan diikuti oleh ratusan wisudawan dari berbagai program studi.

Namun, pelaksanaan wisuda kali ini menuai pro dan kontra di kalangan wisudawan maupun wali wisudawan, khususnya terkait kebijakan pembatasan jumlah orang tua yang dapat memasuki auditorium.
Awalnya, hanya wali dari wisudawan berpredikat cumlaude yang diperbolehkan memasuki auditorium, sementara wali dari wisudawan non-cumlaude hanya bisa menyaksikan prosesi dari luar tenda melalui layar live streaming. Kebijakan ini memicu berbagai tanggapan dan keluhan.

Ketua panitia wisuda, Wawan Sadtyo Nugroho, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut didasarkan pada keterbatasan kapasitas auditorium.

“Faktor utamanya karena aula kami belum cukup untuk menampung semua orang tua mahasiswa. Namun, setelah menerima masukan dari salah satu mahasiswa, kebijakan direvisi menjadi satu orang tua dari setiap wisudawan baik cumlaude maupun non-cumlaude diperbolehkan masuk ke dalam auditorium. Ide ini bahkan akan dipertimbangkan untuk wisuda periode berikutnya,” ujar Wawan.

Ia juga menjelaskan alasan mengapa wisuda kali ini hanya dilaksanakan satu hari, tidak seperti biasanya yang berlangsung dua hari.

“Ketua senat dan rektor memiliki agenda lain yang membuat kami harus mengatur agar seluruh rangkaian acara selesai dalam satu hari. Ini jadi momen luar biasa karena dengan jumlah wisudawan yang banyak, semuanya tetap bisa tercover,” tambahnya.

Salah satu wali wisudawan, Endarti, menyampaikan perasaannya yang hanya dapat menyaksikan wisuda melalui layar dari luar auditorium.

“Sebenarnya tidak adil karena kami ingin menemani anak kami dari dekat. Nonton lewat layar itu sebentar-sebentar dan susah untuk ambil foto. Tapi melihat keterbatasan tempat, kami bisa memaklumi. Di atas juga sudah ada ayahnya, jadi tidak masalah, yang penting anak kami lulus,” ujarnya.

Wisudawan Nafis Avi Lafirda juga memberikan tanggapan serupa. Ia sempat merasa kecewa dan marah atas kebijakan awal, namun bersyukur karena kampus segera mengambil langkah kompromi.

“Awalnya saya tidak terima karena orang tua tidak boleh masuk. Tapi setelah ada kritik dari kami, pihak kampus bergerak cepat. Akhirnya semua wali bisa masuk walaupun hanya satu orang,” jelas Nafis.

Ia juga menegaskan bahwa predikat cumlaude bukanlah ukuran kasta.

“Menurut saya, cumlaude atau tidak bukan soal kasta. Banyak yang IPK-nya tinggi tapi tidak masuk cumlaude karena berbagai alasan. Orang tua semua berhak dihargai, karena merekalah yang membiayai dan mendukung perjuangan kami.”
Nafis pun menyampaikan harapannya untuk pelaksanaan wisuda mendatang.

“Saya berharap wisuda ke depan bisa dipersiapkan lebih matang dan mempertimbangkan semua pihak, tidak hanya satu sudut pandang saja,” pungkasnya.

Reporter : Reza & Maura
Penulis : Maura

Tinggalkan komentar