Oleh: Muna Khuril’ain Muttaqin

Hujan turun deras, mengguyur kota kecil yang sudah terlalu banyak menelan rahasia. Di sudut perpustakaan kampusnya, Najwa menemukan sebuah buku tua yang tak seharusnya ada di sana. Sampulnya lusuh, kertasnya menguning, dan di halaman pertamanya, ada tulisan tangan yang tampak terburu-buru.
“Jangan mencariku. Ini bukan cerita yang seharusnya kau baca.”
Dada Najwa berdebar. Tangannya gemetar saat membalik halaman berikutnya. Semakin ia membaca, semakin ia sadar—ini bukan sekadar buku tua. Ini adalah bagian dari sejarah yang dihapus. Sebuah kisah yang tidak pernah dimaksudkan untuk ditemukan kembali.
Nama itu muncul di halaman terakhir. Aksara Zayan.
Seketika, udara di sekelilingnya terasa lebih berat. Nama itu membawa kenangan yang seharusnya terkubur. Yang Najwa tahu, Aksara Zayan adalah seorang penulis besar yang pernah mengguncang dunia literasi Islam. Ia menemukan namanya pertama kali dalam sebuah jurnal lama di perpustakaan, disebut-sebut sebagai sosok yang membawa gerakan pencerahan di masanya. Namun, kisah tentang Aksara Zayan seolah berhenti pada satu titik—saat ia menghilang tanpa jejak. Tidak ada dokumen resmi yang mencatat apa yang terjadi setelah itu, seolah semua rekam jejaknya dihapus dari sejarah. Bahkan ketika Najwa bertanya kepada dosennya, jawaban yang ia terima terasa ditahan, seperti ada sesuatu yang sengaja disembunyikan. Rasa penasarannya semakin kuat saat suatu hari, seseorang yang tak ia kenali meninggalkan sebuah amplop cokelat di mejanya di perpustakaan. Di dalamnya terdapat dokumen rahasia yang berisi petunjuk aneh—kumpulan artikel lama, potongan surat, dan catatan tangan yang menceritakan kepingan sejarah yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Semakin ia membaca, semakin ia yakin bahwa kisah Aksara Zayan lebih besar dari yang selama ini ia bayangkan. Dokumen itu juga mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan—wajah Aksara yang beredar di internet dan yang diketahui masyarakat luas bukanlah wajah aslinya. Sosoknya yang sebenarnya telah disamarkan selama bertahun-tahun. Dan ini membuatnya ingin terus mencari, meskipun ia belum tahu bahaya macam apa yang tengah menantinya. Nama yang pernah mengguncang dunia literasi Islam sebelum tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Najwa tidak tahu apakah ini kebetulan atau takdir, tetapi satu hal yang pasti: hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.
Ia memutuskan untuk mencari Aksara Zayan. Awalnya, tak ada yang mencurigakan. Namun, saat ia menyebut nama itu dengan lantang kepada seorang penjaga arsip perpustakaan, seorang pria yang tengah membaca di sudut ruangan tampak sedikit menegang, meski hanya sedetik sebelum kembali menunduk ke bukunya. Najwa tidak terlalu memperhatikan pria itu saat itu, menganggapnya hanya pengunjung biasa. Namun, beberapa hari kemudian, saat ia duduk di kafe berbicara dengan seorang dosen tua tentang Aksara, ia menangkap siluet seseorang di ujung ruangan yang terasa familiar. Bayangan itu seakan ada di mana pun ia mencari jawaban, tapi Najwa mengabaikannya, menganggap itu hanya kebetulan. Setiap kali ia mencari informasi, bayangan yang sama selalu muncul—di kafe tempat ia bertanya pada seorang dosen tua, di taman tempat ia berbicara dengan mantan murid Aksara, bahkan di koridor kampus saat ia berbincang dengan seorang teman. Namun, segalanya berubah saat suatu malam ia merasa ada langkah yang mengikuti di belakangnya. Awalnya ia mengira itu hanya perasaannya, atau sekadar pejalan kaki lain di trotoar. Namun, saat ia berbelok ke gang kecil dekat rumahnya dan mendengar langkah itu tetap mengikuti—berhenti saat ia berhenti—dingin menjalari punggungnya. Saat ia memberanikan diri menoleh, hanya ada bayangan yang menghilang di tikungan. Barulah saat itu, Najwa sadar: seseorang memang mengawasinya.
Najwa hanya ingin menemukan kebenaran. Tapi ia tidak pernah menyangka bahwa pencariannya justru bisa membawanya pada sesuatu yang lebih gelap dari yang ia duga.
Langit mulai meredup saat Najwa menyusuri jejak yang tersisa dari Aksara Zayan. Ia menemui orang-orang yang pernah mengenalnya, menggali kisah yang tertinggal di balik lembaran-lembaran yang telah lama dilupakan. Semakin dalam ia mencari, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Mengapa Aksara menghilang? Apa yang ia ketahui sampai harus disembunyikan?
Jawabannya datang dalam bentuk pesan misterius yang masuk ke emailnya.
“Berhenti mencari. Atau kau akan mengalami nasib yang sama.”
Najwa menelan ludah. Kini ia tahu, ini bukan hanya tentang sebuah buku tua. Ini adalah tentang sebuah rahasia yang harus tetap terkubur. Tapi bagi Najwa, menyerah bukanlah pilihan.
Dengan langkah penuh keyakinan, ia menuju alamat terakhir yang ia temukan. Sebuah rumah tua di pinggiran kota, yang konon menjadi tempat tinggal terakhir Aksara sebelum ia menghilang. Setelah mengikuti petunjuk dalam dokumen, Najwa akhirnya tiba di sebuah desa terpencil di luar kota, tempat Aksara bersembunyi selama bertahun-tahun. Desa itu ramai oleh penduduk lokal, tetapi tidak ada yang tahu siapa Aksara Zayan sebenarnya. Di sana, ia hidup sebagai orang biasa dengan nama panggilan yang berbeda dan bekerja sebagai pengajar di sebuah sekolah kecil. Tanpa ada yang menyadari nama besar yang pernah melekat padanya.
“Kau terlambat, Najwa. Mereka sudah datang lebih dulu.”
Jantungnya seakan berhenti berdetak. Berdiri di hadapannya adalah seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun, dengan sorot mata yang menyimpan luka masa lalu. Najwa menatapnya dengan lekat, akhirnya menyadari bahwa ini adalah Aksara Zayan yang selama ini ia cari. Hanya berkat dokumen yang ia terima dari orang asing, ia bisa mengenali sosok ini meskipun dunia telah melupakan wajah aslinya. Aksara Zayan.
“Jika kau membaca buku itu,” lanjutnya dengan suara lemah, “maka kau sudah terlibat lebih jauh dari yang seharusnya.”
Najwa tidak sempat bertanya. Tiba-tiba, cahaya dari luar menghilang seketika. Seseorang telah mematikan lampu jalan di sekitar rumah itu. Suara langkah mendekat. Mereka tidak sendiri.
Najwa merasakan detak jantungnya semakin kencang. Aksara menarik lengannya dengan cepat, membawanya masuk lebih dalam ke rumah. “Kita tidak punya banyak waktu,” bisiknya. “Aku sudah terlalu lama bersembunyi. Tapi kini, mereka tahu aku masih ada.”
“Siapa mereka?” Najwa bertanya dengan suara bergetar.
Aksara menyalakan lentera kecil di sudut ruangan. Cahaya temaram mengungkapkan tumpukan buku-buku tua yang tertata di sekeliling ruangan. “Orang-orang yang ingin agar sejarah tetap mati. Mereka yang takut jika generasi sepertimu mulai bertanya.”
Suara langkah semakin mendekat. Lalu terdengar suara ketukan keras di pintu. “Pak Aksara! Kami tahu Anda di dalam! Buka pintunya, atau kami akan masuk dengan paksa!”
Najwa menoleh ke arah Aksara dengan panik. “Apa yang harus kita lakukan?”
Aksara menarik napas dalam, lalu menyodorkan sebuah buku lusuh ke tangan Najwa. “Bawa ini. Keluar lewat pintu belakang. Aku akan mengalihkan perhatian mereka.”
“Tapi—”
“Tidak ada tapi. Ini bukan tentang aku lagi. Ini tentang kebenaran yang harus tetap hidup.”
Najwa ragu sejenak, tetapi kemudian ia meraih buku itu dan berlari ke belakang. Ia menemukan pintu kecil yang terbuka menuju kebun di belakang rumah. Hujan semakin deras. Ia menembus kegelapan, meninggalkan Aksara yang kini menghadapi mereka sendirian.
Saat Najwa berlari di bawah guyuran hujan, pikirannya dipenuhi ketakutan dan pertanyaan. Apa yang sebenarnya tersembunyi dalam buku ini? Mengapa ada orang-orang yang ingin menghapus jejaknya?
Ketika akhirnya ia mencapai jalan utama, sebuah mobil hitam berhenti mendadak di depannya. Dua pria keluar, menatapnya dengan sorot mata tajam.
“Serahkan bukunya, Najwa.”
Najwa mundur perlahan, merasakan tubuhnya gemetar. Ini bukan hanya tentang menemukan kebenaran. Ini tentang bertahan hidup.
Tiba-tiba, suara klakson keras terdengar. Sebuah motor melaju cepat dari kejauhan, lalu berhenti di antara Najwa dan pria-pria itu. Pengendaranya mengenakan helm hitam, hanya menyisakan mata yang tajam. “Naik!” serunya.
Najwa ragu, tetapi saat pria-pria itu mulai bergerak ke arahnya, ia tidak punya pilihan lain. Ia melompat ke atas motor, merasakan tubuhnya terhuyung saat kendaraan itu melaju menembus malam. Angin dingin menampar wajahnya, tetapi pikirannya jauh lebih kacau dari badai di sekelilingnya.
Di balik punggung pengendaranya, Najwa berusaha mengingat di mana ia pernah melihat sosok ini sebelumnya. Mata tajam itu, gerakannya yang sigap, ada sesuatu yang terasa tidak asing. Ketika motor akhirnya berhenti di sebuah gang sempit, pengendaranya melepas helmnya, memperlihatkan wajah yang membuat jantung Najwa mencelos.
“Kau…?” Najwa hampir tidak percaya.
Orang itu mengangguk. “Kita tidak punya waktu banyak. Buku itu adalah kunci terakhir. Aksara mempercayakan itu padamu, dan aku akan memastikan kau berhasil membawanya ke tempat yang aman.”
“Siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan Aksara?” Najwa bertanya, masih terengah.
“Aku muridnya,” jawabnya singkat. “Dan sekarang, kau harus meneruskan jejaknya.”
Dari kejauhan, suara sirene polisi terdengar, bercampur dengan deru mobil yang melaju mendekat. Mereka sudah ditemukan. Pengendara itu menatap Najwa dengan tatapan penuh makna sebelum berkata, “Ikuti aku, atau kau akan kehilangan kesempatan untuk mengetahui kebenaran yang lebih besar.”
Najwa menelan ludah, lalu mengangguk. Langkahnya terasa berat, tetapi ia tahu tidak ada jalan kembali. Ia harus mencari tahu, meski itu berarti melangkah lebih jauh ke dalam bahaya yang belum ia pahami sepenuhnya.
Ia tidak tahu ke mana motor itu akan membawanya, siapa lagi yang terlibat, dan apa yang akan ia temui di ujung perjalanan ini. Namun, satu hal yang pasti—ini bukan sekadar tentang Aksara Zayan. Ini tentang sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang telah lama terkubur dan kini mulai menyeruak kembali ke permukaan.
Najwa menggenggam buku itu erat-erat, mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Mereka melaju semakin jauh, meninggalkan kota dan memasuki jalanan sunyi yang dipenuhi kabut. “Ke mana kita pergi?” tanyanya dengan suara sedikit bergetar.
“Ke tempat yang lebih aman. Ada seseorang yang harus kau temui,” jawab pengendara itu tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
Mereka akhirnya berhenti di sebuah rumah kecil di pinggir hutan. Najwa turun, masih ragu dengan apa yang akan ia temui. Pintu rumah terbuka, dan seorang lelaki tua dengan janggut putih menatapnya lekat-lekat. “Kau akhirnya tiba,” katanya dengan nada yang penuh makna.
Najwa menatap pria itu dengan penuh tanda tanya. “Siapa Anda?”
“Seseorang yang dulu pernah bersama Aksara Zayan,” jawabnya. “Dan sekarang, kau harus mendengar kisah yang sebenarnya.”
Di dalam rumah, Najwa duduk di depan meja kayu yang penuh dengan kertas-kertas kuno. Lelaki tua itu mulai berbicara, mengungkapkan bagaimana Aksara dulu adalah bagian dari gerakan besar yang mencoba menyelamatkan pengetahuan yang hampir punah. “Semua ini bukan hanya tentang satu orang, Najwa. Ini tentang memastikan kebenaran tetap ada untuk generasi berikutnya.”
Najwa merasakan tubuhnya bergetar. Ia sadar bahwa ia telah melangkah ke dalam sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan. Dan kini, tidak ada jalan untuk kembali.
Najwa baru menyadari siapa orang-orang yang mengejarnya. Mereka bukan sekadar sekelompok pencari keuntungan atau penyensor sejarah biasa. Mereka adalah bagian dari jaringan besar yang bekerja dalam bayang-bayang, mengendalikan informasi yang boleh dan tidak boleh diakses oleh publik. Nama mereka disebut secara samar dalam dokumen yang diberikan kepadanya—sebuah kelompok yang telah beroperasi selama puluhan tahun untuk menghapus jejak-jejak kebenaran.
“Mereka takut akan kebenaran, Najwa,” ucap lelaki tua itu dengan nada berat. “Mereka telah memburu orang-orang seperti Aksara selama bertahun-tahun, memastikan tidak ada satu pun warisan pemikirannya yang tersisa.”
Najwa menggigit bibirnya. “Tapi kenapa aku? Mengapa aku juga menjadi incaran mereka sekarang?”
Lelaki tua itu menatapnya tajam, lalu melirik buku lusuh yang masih Najwa genggam. “Karena kau sudah menemukan ini. Dan karena Aksara mempercayakan padamu untuk melanjutkan apa yang ia mulai.”
Najwa ingin menyangkal, ingin mengatakan bahwa ia hanya seorang mahasiswi biasa yang kebetulan tersandung dalam situasi ini. Tapi dalam hatinya, ia tahu bahwa itu tidak lagi benar. Kini, ia menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar—sebuah perjuangan yang harus ia lanjutkan, meskipun nyawanya menjadi taruhannya.
“Aku tidak bisa melakukannya sendirian,” gumamnya.
“Kau tidak sendirian,” sahut suara lain.
Najwa menoleh. Murid Aksara, pria yang membawanya ke tempat ini—menatapnya dengan penuh keyakinan. “Aku dan orang-orang lain yang masih mempercayai bahwa kebenaran harus tetap hidup akan melindungimu,”
“Aku tidak bisa turun tangan secara langsung karena usiaku, tetapi aku akan membimbing kalian dengan apa yang aku tahu. Ilmu ini tidak boleh mati, dan kau, Najwa, harus memastikan bahwa jejak ini tidak menghilang.” Lanjut lelaki tua itu.
Najwa menarik napas dalam. Pilihan apa lagi yang ia miliki? Ia hanya bisa melangkah maju, menelusuri jejak yang telah ditinggalkan Aksara. Dan kini, dengan kelompok misterius itu mengawasi setiap langkahnya, ia harus lebih berhati-hati dari sebelumnya.
Di luar, angin malam berembus dingin. Jauh di kejauhan, sepasang mata mengintai dari balik bayang-bayang pepohonan. Perjalanan Najwa baru saja dimulai.
Tinggalkan komentar