Oleh [Reza]

Sore itu, Tugu tampak tenang. Langit Yogyakarta bergelayut jingga, sementara lalu-lalang kendaraan tak henti-henti seperti biasa. Tapi di satu sisi pelataran, diam bukanlah tanda pasrah.
Pakaian hitam menyelimuti tubuh-tubuh muda yang berdiri tegak. Mata mereka menatap kosong, namun dada mereka penuh sesak. Di tengah kerumunan, nama seorang anak muda disebut pelan-pelan: Argo Ericko Achfandi.
“Kalau anak orang kaya menguasai jalanan,
Nasib orang miskin jadi taruhan.”
Suara puisi itu memecah keheningan. Kata-kata meluncur seperti luka yang dibuka ulang. Tak ada musik, tak ada sorak hanya kata, doa, dan rasa kehilangan yang tak berbentuk.
Seorang Anak Hilang, Sebuah Sistem Dibuka
Argo bukan siapa-siapa bagi negara. Hanya mahasiswa hukum biasa, 19 tahun, yang pulang terlalu malam dan ditabrak terlalu cepat. Malam itu, Sabtu 24 Mei 2025, mobil BMW melesat dan menghantamnya dari belakang di Jalan Palagan. Tubuhnya terpental. Nyawanya melayang.
Pelaku bukan perampok, bukan preman, tapi teman satu almamater mahasiswa FEB UGM, pengemudi BMW: Christiano Tarigan.
Argo mati, dan hukum pun diuji.
Ketika Diam Tak Lagi Cukup
Kamisan sore itu bukan Kamisan yang biasa. Ia bukan hanya mengenang masa lalu, bukan hanya meratap nama-nama yang telah tiada karena peluru negara atau dendam politik. Kamisan kali ini lebih dekat. Lebih nyata. Lebih kasat.
“Dulu kita berdiri diam, hanya membawa tuntutan. Tapi sekarang kita bicara,” kata Oca, koordinator Aksi Kamisan Yogyakarta. Suaranya tenang tapi tegas, seperti tuntutan yang tak bisa ditawar.
Kamisan adalah ruang ingatan. Tapi juga ruang perlawanan. Sejak 2007, ia menjadi saksi diam keluarga korban pelanggaran HAM. Di Jogja, sejak 2013, ia terus hidup, berubah dari aksi diam menjadi mimbar kata, puisi, musik, dan refleksi.
Hari itu, Argo menjadi bagian dari sejarah itu.
Ada 1 Miliar di Antara Keadilan
Dari suara Oca mengalir cerita: tentang upaya damai yang ditawarkan dengan 1 miliar rupiah. Tentang kecurigaan permainan hukum. Tentang sesuatu yang terdengar terlalu familiar di negeri ini
“Kami tahu pelaku sudah ditangkap. Tapi kami juga tahu ada banyak yang janggal. Uang seperti berusaha menutupi luka,” ujarnya.
“Kalau bukan masyarakat sipil yang bersuara, ini akan habis. Seolah-olah tak pernah terjadi.”
Kampus Besar, Sunyi Besar
Kampus tempat Argo belajar dan pelaku juga berasal masih diam. Tak ada keterbukaan, tak ada kejelasan.
“UGM harus buka informasi yang seluas-luasnya. Ini bukan hanya soal pidana. Ini soal keadilan, tentang hak-hak Argo,” tegas Oca.
Doa dan Puisi sebagai Tanda Perlawanan
Senja berganti gelap. Suasana tenang seperti awal, tapi tidak kosong. Di tengah lingkaran, semua peserta menunduk. Satu suara berdoa:
“Argo adalah orang baik. Jangan biarkan uang menyelesaikan ini. Jangan biarkan orang kaya menang atas keadilan.”
Doa itu bukan basa-basi. Ia adalah jerit hati yang tak bisa dibungkam. Ia diteruskan lewat puisi yang menggugat:
“Anak-anak orang kaya mulai unjuk gigi,
Menabrak orang miskin tanpa diadili…”
Kami Tidak Akan Lupa
Malam semakin larut, tapi nama Argo tetap tinggal. Di jalanan, mungkin semua akan kembali seperti biasa. Tapi Kamisan percaya: selama hukum masih bisa dibeli, suara mereka tak akan berhenti.
“Kasus ini akan kami kawal. Karena ini bukan yang pertama, dan mungkin bukan yang terakhir,” kata Oca pada waktu aksi ditutup doa.
Diam bukan lagi pilihan. Argo telah tiada, tapi kita yang hidup tak boleh mati rasa.
Dan Kamisan akan tetap datang. Tak untuk menang, tapi agar kebenaran tak sendirian.
Tinggalkan komentar