Oleh: Betrand Ruwatan

Pancasila lahir di tengah gugusan harapan dan pertempuran, digendong oleh darah dan air mata, dibuai oleh mimpi kemerdekaan. Tapi, kenapa sekarang tampak seperti anak kandung yang tak diakui? Ia tumbuh di lorong-lorong sunyi, jauh dari meja kekuasaan yang sibuk menjual cita-cita.
Melihat kenyataan, di atas Candi Borobudur, burung-burung terbang rendah. Angin tak lagi sejuk seperti dulu. Para pedagang kecil yang bertahun-tahun hidup berdampingan dengan tangga-tangga batu purba, dipaksa menyingkir. Peraturan datang dari atas, membawa spanduk modernisasi, tapi melupakan perut dan harga diri rakyat.
“Borobudur ora didol,” seru mereka, suara yang tertindas. Bukan karena mereka tak cinta perubahan, tapi karena perubahan itu seperti pisau: satu sisi tajam untuk pembangunan, sisi lain menikam perut mereka.
Dan di tengah itu, Pancasila kembali muncul. Tapi kali ini bukan sebagai pidato, bukan di baliho, bukan pula di buku pelajaran. Ia muncul sebagai bayangan anak kecil yang kehilangan sekolah karena bapaknya kehilangan lapak. Ia muncul sebagai tangis diam seorang ibu yang tak tahu harus menjual apa lagi.
Dengan begitu, maka kan kukisahkan kepada kalian tentang Payung Tua di Kaki Borobudur. Waktu itu, hujan turun pelan di pelataran Pasar Sentul. Embun pagi belum menguap, tapi Pak Giman sudah duduk bersila di samping termos kopi dan toples berisi rengginang. Payung hitam besar itu masih utuh, meski gagangnya bengkok dan ujung-ujungnya berkarat. Di salah satu sisinya, ada tulisan tangan yang pudar: “Borobudur ora didol.”
Pak Giman bukan siapa-siapa. Ia bukan pemilik hotel, bukan pedagang besar, apalagi investor. Ia cuma tukang gorengan yang dulu mangkal di dekat anak tangga Candi Borobudur—tempat para turis asing lewat, tempat anak-anak sekolah tertawa sambil membeli tempe mendoan panas. Tapi sejak kawasan itu “ditata”, ia dan puluhan pedagang lain harus pindah ke tempat yang katanya “lebih manusiawi”.
“Lebih manusiawi bagi siapa?” gumamnya.
Pindahan itu memang membuat tempatnya berjualan jadi beratap seng dan berdinding rapi. Tapi pengunjung tak banyak. Jalur ditutup, parkiran dipindah. Orang-orang hanya lewat, tak lagi singgah. Rengginangnya keras sendiri di toples, seperti perasaan yang sudah lama ia pendam.
Ia ingat hari itu—1 Juni, Hari Lahir Pancasila. Di radio desa, orang-orang bicara soal Bung Karno dan pidatonya. Tentang dasar negara yang lahir dari rahim penderitaan rakyat. Tapi di pasar, suara itu tenggelam oleh keributan para pedagang yang digusur. Ada yang menangis. Ada yang marah. Ada yang hanya diam, seperti Pak Giman.
“Pancasila lahir,” katanya pelan, “tapi langsung disembelih dengan pena pejabat.”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Lahir dan disembelih—seperti Ismail di Padang Mina. Tapi bedanya, tak ada tangan malaikat yang menghentikan pisau. Tak ada suara dari langit. Hanya suara speaker dari proyek pariwisata:
“Kami membangun untuk Indonesia Maju!”
Mereka menyebutnya “destinasi super prioritas”. Tapi bagi Pak Giman, itu cuma nama lain dari penggusuran dengan jas rapi dan kamera media.
Entah mengapa, Pak Giman merasa ingin turun ke alun-alun kota. Ia membawa payung hitamnya, duduk di depan pendopo, sendirian. Orang-orang lewat menatap aneh. Seorang pemuda menghampiri.
“Mbah, ngapain duduk di situ sendirian?”
Pak Giman tersenyum. “Lagi baca sila kelima.”
“Sila kelima?”
“Iya. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Pemuda itu terdiam. Angin menari pelan.
Pak Giman menatap langit, lalu berbisik,
“Pancasila itu seperti candi, Nak. Teguh, besar, dan indah. Tapi sekarang, candi boleh dilihat, Pancasila tak lagi terasa.”
“Lalu, kenapa Mbah bawa payung itu?”
Pak Giman tersenyum lagi. “Payung ini saksi. Dulu, waktu saya ditendang dari tempat jualan, dia meneduhkan saya. Hari ini, dia saya bawa untuk meneduhkan Pancasila.”
Pemuda itu tertunduk. Ia merogoh ransel, mengeluarkan selembar karton dan spidol. Lalu duduk di samping Pak Giman. Di kartonnya, ia tulis:
“Pancasila Ora Didol, Rakyat Ora Disingkirkan.”
Beberapa minggu kemudian, sebuah foto viral di media sosial: seorang kakek duduk di bawah payung hitam bertuliskan “PANCASILA ORA DIDOL” — di sampingnya, seorang pemuda memegang poster. Mereka diam, tapi sorot matanya bicara lebih keras dari demo mana pun.
Dan hari itu, banyak orang datang. Duduk diam. Membawa poster mereka sendiri. Tak ada orasi, tak ada teriakan. Hanya diam yang nyaring.
Dan di dalam diam itu,
Pancasila lahir kembali.
[TAMAT]
Tinggalkan komentar