LPM TIDAR 21 — Pergerakan mahasiswa di Magelang kian meredup. Presiden Mahasiswa Universitas Tidar (Presma Untidar) menegaskan, ketiadaan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas di Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menjadi titik lemah paling nyata dalam konsolidasi mahasiswa di kota ini.
Menurutnya, UNIMMA adalah kampus besar dengan jumlah mahasiswa yang banyak, sehingga tak bisa dipandang remeh dalam dinamika pergerakan. Sejak BEM Magelang Raya (MARA) terbentuk pada 2023, UNIMMA selalu menjadi salah satu barisan paling ramai dalam setiap aksi bersama.
“Pembentukan BEM Universitas di UNIMMA bukan sekadar kepentingan internal kampus. Ini soal hidup-matinya pergerakan mahasiswa di Magelang,” tegas Presma Untidar.
Hingga kini, komunikasi dengan UNIMMA hanya sebatas melalui gubernur BEM fakultas. Pola seperti ini menurutnya, tidak cukup untuk menjamin konsolidasi yang kuat. Ia mendorong agar kepengurusan baru di setiap fakultas segera digerakkan menuju pembentukan BEM Universitas.
Presma Untidar menilai, keberadaan BEM UNIMMA akan menjadi suntikan energi besar bagi MARA. Pasalnya, banyak kampus lain di Magelang kesulitan bergerak karena tekanan birokrasi maupun ikatan dinas. Akatirta, Polbangtan, Poltekes, hingga Bina Patria sering terbentur hambatan ketika hendak turun aksi.
“UNIMMA justru masih punya ruang bebas. Kalau ada BEM Universitas, mereka bisa jadi poros penggerak. Dari Magelang, energi itu bisa mengalir sampai Jawa Tengah,” ujarnya.
Ia juga menekankan, kehadiran BEM Universitas bukan hanya kebutuhan formalitas organisasi, melainkan amanat sejarah yang harus dipikul mahasiswa UNIMMA.
“Apapun kondisinya, hadapi. Jangan takut konflik internal. Jangan tunduk pada permainan politik kampus. Kalau mau besar, UNIMMA harus berani membentuk BEM Universitas. Kalau tidak, sejarah hanya akan mencatat mereka sebagai penonton, bukan pelaku perlawanan,” pungkasnya.
Tinggalkan komentar