
LPM Tidar 21 – Semaraknya pelaksanaan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru Universitas Muhammadiyah Magelang (PKKMB Unimma) tahun 2025 tak terlepas dari berbagai dinamika yang terjadi dibaliknya. Sebagaimana layaknya kegiatan pada umunya yang tak pernah lepas dari pro dan kontra, kegiatan ini juga menuai beberapa cibiran terutama dalam hal kepanitiaannya.
Isu tak sedap muncul karena adanya kecemburuan sosial dari beberapa mahasiswa ketika mengetahui bahwa Forum Mahasiswa Beasiswa (FMB) ikut serta dalam kepanitiaan PKKMB Unimma tahun 2025. Namun, alasan dibalik terpilihnya FMB sebagai salah satu panitia pelaksanaan PKKMB Unimma tahun 2025 adalah sebagai bentuk pengabdian mahasiswa beasiswa terhadap masyarakat dan kegiatan kampus. Hal ini disampaikan oleh Akhmad Baihaqi, selaku ketua panitia PKKMB Unimma tahun 2025.
“Mahasiswa beasiswa itu diwajibkan pengabdian kepada masyarakat. Jadi kami mengakomodasi tersebut sebagai bentuk pengabdian mereka, sebagai timbal balik mereka di beasiswa tersebut. Bentuk pengabdian mahasiswa beasiswa untuk berpartisipasi ikut aktif dalam kegiatan kampus,” tegasnya.
Selaras dengan pernyataan yang telah diberikan oleh ketua panitia, M. Iqbal Fanani selaku Ketua Umum FMB juga berpendapat bahwa FMB dipilih bukan semata-mata tanpa adanya alasan. Namun, sebagai bentuk pengabdian dari teman-teman beasiswa kepada kampus.
“Sebenarnya Masta (PKKMB Unimma) untuk kita semua, artinya teman-teman kan ikut terlibat semua. Nah akan tetapi, kenapa kok meminta dari FMB? Barangkali memang karena sebagai bentuk pengabdian,” ungkap Iqbal.
Namun selain FMB, terdapat beberapa dosen, tenaga pendidik dan Ortom Muhammdiyah yang juga ikut serta dalam kegiatan PKKMB tahun ini.
“Untuk kepanitiaan ini, dibantu oleh beberapa dosen dan tenaga pendidik. Untuk yang membantu kami, kami dari LPMA untuk tahun ini memfokuskan kepada FMB. Kemudian, hari kedua merupakan hari Kemuhammadiyahan, disini ada Ortom (Hisbul Wathan, Tapak Suci, dan IMM). Tiga ortom itulah yang meng-handle acara itu. Kemudian dihari ketiga, teman-teman Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) mengisi dan berpartisipasi,” ujar Baihaqi.
Iqbal juga menambahkan bahwa Mahasiswa reguler juga diberikan kesempatan yang sama untuk dapat ikut serta menjadi bagian dari panitia pelaksanaan PKKMB Unimma tahun 2025.
“Karena ada masukan, itu diterima oleh FMB. Akhirnya kita melakukan open recruitment volunteer. FMB menyambut baik, dimana kritik dan saran juga oke saja. Artinya kita Alhamdulillah ada kritik dan saran yang seperti ini, lalu kita benahi. Nah yang tadinya memang ini dari teman-teman beasiswa, pada akhirnya kita buka open recruitment ke mahasiswa yang regular,” ucap Iqbal.
Selain itu, tidak adanya keterlibatan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat fakultas pada kegiatan PKKMB tahun ini juga dijelaskan oleh Baihaqi. Menurutnya, DPM F dan BEM F memiliki ranah di tingkat fakultas terutama dalam kegiatan fakultair.
“Kalau dari DPM F dan BEM F itu ranahnya di fakultas. Supaya nanti pas di fakultair itu untuk meng-nggembleng khusus di fakultasnya itu.” ujar Baihaqi.
Di sisi lain, Iqbal memiliki pandangan tersendiri mengenai absennya DPM F dan BEM F dalam kepanitiaan PKKMB tahun ini. Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya sudah terdapat upaya untuk mengumpulkan pihak dari DPM F dan BEM F. Namun ternyata, pihak dari DPM F dan BEM F tidak hadir sehingga menimbulkan hambatan dalam kegiatannya.
“Dari teman-teman UKM, DPM F, dan BEM F itu kan sudah dikumpulkan sebelum itu. Nah, ketika kemarin sudah dikumpulkan, tapi ternyata teman-teman sudah sampai tiga kali itukan tidak hadir. Nah barangkali itu juga salah satu penghambatnya berkaitan dengan kegiatannya.” ungkap Iqbal.
Sedangkan, mengenai konsep kegiatan PKKMB pada tahun 2025 kali ini tidak jauh berbeda dengan konsep PKKMB tahun lalu. Namun, terdapat beberapa perbedaan dalam rangkaian acara.
“Agustus awal Surat Tugas (SK) itu turun. Saya kira (konsepnya) tidak jauh berbeda. Kalau digabungkan jadi satu di auditorium kita tidak muat. Kalau konsep acaranya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, cuma tahun ini dipecah jadi dua gelombang.” tutur Baihaqi.
Mengenai konsep kegiatan, Iqbal menjelaskan bahwa pihak FMB tidak ikut terlibat karena konsep PKKMB tahun ini sudah dirumuskan oleh panitia universitas.
“FMB pun tidak ikut terlibat disitu. Dari FMB malah sebenarnya tidak ikut merumuskan hal-hal yang ada didalam PKKMB. Kegiatan PKKMB sudah dirumuskan oleh panitia universitas.” jelas Iqbal.
Sementara itu, Adam Rizqi Saputra selaku koordinator UKM dalam PKKMB menyampaikan keluh kesahnya pada hari ketiga gelombang pertama, ia menyoroti kurangnya komunikasi antara panitia dan UKM serta kebingungan terkait ruangan transit.
”Dari komunikasi panitia juga masih kurang ke teman-teman UKM. Dari kita sudah mengusulkan untuk dicarikan ruangan untuk transit. Dari teman-teman UKM itu bingung tempat transitnya cuma ada satu ruangan. Padahal UKM kan ada 14, jadi kalau cuma satu ruangan kan kurang cukuplah buat barang-barang teman UKM. Jadi masih agak kebingungan untuk ruangan juga kemarin.” cakap Adam.
Sementara itu, pada gelombang kedua hari yang sama, ia juga mengeluhkan keterlambatan pelaksanaan dan minimnya partisipasi dari mahasiswa baru.
“Kalau yang gelombang kedua itu ada tanggapan yang kurang baik, karena diawal kegiatan parade itu molor waktunya. Dan untuk maba cuma kayak diam atau ngantuk gitu. Jadi kayak gak menyaksikan UKM pas parade dengan baik.” tambahnya.
Dibalik dinamika pro dan kontra yang mengiringi, PKKMB tahun 2025 tetap mendapat sambutan antusias dari para peserta. Agatha Rachel, salah satu peserta PKKMB Unimma 2025 gelombang 1 menyampaikan perasaan bahagianya selama mengikuti rangkaian kegiatan PKKMB.
“Perasaanku happy banget, materi yang disampaikan juga dapat aku pahami dengan baik dan jelas. Secara keseluruhan aku nyaman. Namun, pada saat hari terakhir Masta itu sedikit terganggu karena harus duduk lama di halaman parkiran dan juga pengaruh dari pakaiannya yang menggunakan rok. Tapi hari-hari Masta yang lain betul-betul merasa nyaman dan happy. Tidak ada kendala.” tutur Rachel.
Hal positif juga disampaikan oleh Wedyan Queensabela Visaharani, peserta PKKMB gelombang 1 yang juga merupakan mahasiswa tuli. Ia merasa senang dan cukup diperhatikan selama berjalannya kegiatan PKKMB karena didampingi oleh Forum Ramah Difabel (Forda) dan Juru Bahasa Isyarat (JBI).
“Saya senang dan materinya cukup jelas untuk dipahami. Saya merasa cukup diperhatikan, ada panitia dari Forda dan JBI yang mendampingi saya selama kegiatan PKKMB. Saya mendapatkan kesempatan yang sama untuk aktif seperti mahasiswa lain,” jelas Queensa.
Senada dengan pernyataan dua peserta sebelumnya, Rama Akbar Pangestu, salah satu peserta PKKMB pada gelombang 2, juga menyampaikan perasaan senangnya selama mengikuti PKKMB.
“Perasaan aku setelah mengikuti PKKMB cukup menyenangkan yang mana di runtutan acaranya banyak pengenalan tentang dunia kampus dan pengenalan UKM yang membuatku lebih banyak mengerti dan tahu tentang dunia kampus. Namun, ketika hujan mulai turun, saya rasa saya dan teman-teman yang lain sudah tidak terlalu diperhatikan.” ungkap Rama.
Meskipun perjalanan PKKMB tahun ini penuh lika-liku, enam narasumber yang telah diwawancarai sama-sama menaruh harapan agar PKKMB ke depannya menjadi lebih baik dan matang. Mereka berharap segala permasalahan yang muncul dalam PKKMB tahun 2025 ini dapat dijadikan bahan evaluasi yang konstruktif, sehingga penyelenggaraan di tahun-tahun berikutnya tidak hanya mampu menghadirkan acara yang tertib dan terorganisir, tetapi juga benar-benar memberi pengalaman yang berkesan, inklusif, serta bermanfaat bagi seluruh pesertanya.
Reporter : Dzakiy, Alya
Penulis : Alya
Editor : Kayla Rizkiya
Tinggalkan komentar