
LPM Tidar 21 – Kekosongan lembaga tinggi Universitas Muhammdiyah Magelang (UNIMMA) dalam dua tahun terakhir ini memunculkan keresahan di kalangan Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Hal tersebut berdampak pada terhambatnya aspirasi mahasiswa, kaburnya jalur komunikasi dengan pihak kampus, melemahnya koordinasi antarorganiasi, serta terhentinya mekanisme demokrasi kampus yang seharusnya berjalan secara berkelanjutan. Kondisi tersebut menjadi latar belakang digelarnya konsolidasi ormawa terkait pemilihan calon Presiden Mahasiswa (Presma) Unimma periode 2025/2026 yang diselenggarakan di Lapangan Basket Kampus 2 Unimma pada Selasa, 6 Januari 2026. Konsolidasi ini dihadiri oleh Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum dari seluruh ormawa Unimma yang terdiri dari Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM F), UKM, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat (IMM Komisariat) dan Koordinasi Komisariat (Korkom) serta Forum Mahasiswa Beasiswa (FMB).
Salah satu inisiator konsolidasi, Ahmad Hanif selaku Gubernur BEM Fakultas Teknik, berpendapat bahwa konsolidasi ini berangkat dari kegelisahan struktural. Ia menyoroti hilangnya otoritas lembaga mahasiswa di tingkat universitas yang sebelumnya dipegang oleh BEM U dan DPM U.
“Pemenang otoritas tertinggi yang sebelumnya dipegang oleh BEM U, DPM U dan Korkom. Terus DPM U dan BEM U tidak ada, otomatis Korkom sendiri yang masuk ke otonom kampus. Sementara sudah beda sendiri garis instruksinya sama Korkom,” ujarnya.
Selain itu, Hanif menambahkan bahwa urgensi dari konsolidasi ini terdapat pada kekosongan BEM U yang berdampak pada ketidakjelasan anggaran organisasi.
“Selama masa jabatan saya, pagu anggaran BEM F belum jelas, bolak-balik saya tanya dekan dan wadek (wakil dekan) jawabannya pasti sama ‘Univ belum raker’ kita butuhlah orang yang bisa menyuarakan langsung ke Unimma biar pagunya jelas dan gak bingung kalau mau prokeran,” tambah Hanif.
Keresahan lainnya juga disampaikan oleh Reyhan, Ketua UKM Tapak Suci Unimma yang mengungkapkan bahwa meski tidak berdampak langsung pada internal UKM, kekosongan BEM U berpengaruh pada hubungan yang kurang harmonis dan kolaborasi antarorganisasi mahasiswa sehingga menyebabkan timbulnya konfllk.
“Sebenarnya kalau di internal, tidak ada masalah. Tapi hubungan kami dengan ormawa lain terlihat berpengaruh. Kayak gak harmonis dan kurang kolaborasi. Gak ada kepala diantara kita yang bisa menengahi kita akhirnya timbul masalah-masalah dan konflik,” ujar Reyhan.
Dari hasil konsolidasi tersebut, forum menyepakati satu nama yang akan diajukan sebagai calon Presma Unimma periode 2025/2026, yaitu Rafli Ulya Saputra. Hanif menegaskan bahwa sejak awal konsolidasi tidak dirancang untuk mengusung figur tertentu karena forum ini dibuka sebagai ruang penampungan aspirasi dari seluruh ormawa dan UKM terkait kebutuhan kepemimpinan mahasiswa di tingkat universitas.
“Tujuan awalnya BEM F menginisasi konsolidasi sendiri tidak semata-mata angkat namanya Rafli yang mau jadi calon, tapi cuman menuangkan aspirasi dari mahasiswa lainnya, UKM, ataupun ormawa lainnya,” ujar Hanif.
Namun, dinamika forum berkembang seiring munculnya informasi simpang siur mengenai kesediaan Rafli untuk maju sebagai Presma. Nama tersebut kemudian menjadi opsi yang dibahas dan diterima oleh forum konsolidasi.
“Awalnya bingung siapa yang mau ditunjuk, tapi beberapa hari yang lalu sempat ada kabar simpang siur katanya Rafli mau naik jadi Presma, dan katanya orangnya mau. Ya sudah pakai namanya dia saja yang diajukan,” jelas Hanif.
Menanggapi munculnya satu nama calon Presma, Reyhan mengaku tidak mengenal calon tersebut secara personal. Meski demikian, ia berupaya mencari informasi mengenai rekam jejak calon Presma dari berbagai sudut pandang sebelum menarik kesimpulan.
“Saya sendiri tidak terlalu mengenal mas Rafli karena beda kampus dan tidak pernah satu organisasi. Tapi disaat adanya isu dia akan maju atau diajukan oleh teman-teman yang lain saya mencari tahu dan bertanya-tanya saat menjabat di Bem fakuktas. Saya tarik garis besar menurut saya memang bisa,” ujar Reyhan.
Menurutnya, dalam kondisi saat ini, Unimma tidak membutuhkan figur dengan program yang terlalu besar, melainkan sosok pemimpin yang mampu merangkul dan menjadi penengah antarorganisasi mahasiswa.
“Kita nggak perlu muluk-muluk. Yang penting ada satu sosok pemimpin yang bisa merangkul ormawa-ormawa di bawahnya,” tambahnya.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Afnan Ahsana, salah satu pembicara dalam konsolidasi. Ia menekankan bahwa fokus utama forum bukan terletak pada figur semata, melainkan pada upaya memulihkan demokrasi kampus yang dinilainya telah berjalan tidak ideal dalam beberapa waktu terakhir.
“Kita harus membuang luka lama dari demokrasi yang tidak berjalan apa adanya dan munculnya satu nama ini harus dimaknai sebagai langkah untuk membangun Unimma kembali,” ujar Afnan.
Terkait tindak lanjut setelah keluarnya satu nama calon Presma, Hanif menjelaskan bahwa forum konsolidasi bersama Lembaga Pengembangan Mahasiswa dan Alumni (LPMA) telah membahas mekanisme yang akan ditempuh.
“Mengingat kondisi dan keterbatasan waktu, pengangkatan Presma gak dilakukan melalui Pemira (Pemilihan Mahasiswa Raya), tapi melalui mekanisme pengajuan nama ke pihak kampus terus diterbitkan SK (Surat Keputusan). Makanya LPMA sendiri ngasih opsi buat nyetorin nama calon Presmanya sendiri sama kampus dan semua pihak dari Ormawa sama UKM sendiri setuju akan dikeluarkan SK,” ujar Hanif.
Sementara itu, Afnan menekankan bahwa tindak lanjut dari pihak kampus tidak cukup berhenti pada penerbitan SK semata, melainkan harus disertai upaya membangun kembali kesamaan visi antara mahasiswa dan universitas.
“Kalau kita berkaca dari kemarin, LPMA tidak mengetahui adanya LPJ dari BEM U. Menurut saya sebagai lembaga pengembangan, mereka sudah kehilangan komitmen monitoring dan controlling di situ,” ungkapnya.
Ia berharap keberadaan Presma dan BEM U ke depan dapat menjadi fondasi keberlanjutan demokrasi kampus dengan kembali mengedukasi pemahaman demokrasi di seluruh elemen organisasi mahasiswa.
“Kita harus pahamkan kalau kampus ini punya demokrasi, supaya di Unimma tetap berlanjut,” pungkas Afnan.
Reporter : Maura Amelia
Penulis : Husnul Kayla
Tinggalkan komentar